Laboratorium Kesehatan di Puskesmas merupakan salah satu bagian pelayanan utama yang menunjang kegiatan pelayanan  kesehatan di setiap Puskesmas. Peranan Laboratorium di Puskesmas saat ini telah menjadi bagian yang cukup diperhitungkan, penegakan diagnosa penyakit telah banyak mensyaratkan untuk didukung dengan data hasil pemeriksaan laboratorium.

Laboratorium Puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan di Puskesmas yang melaksanakan pengukuran, penetapan, dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit, penyebaran penyakit, kondisi kesehatan atau faktor yang dapat berpengaruh pada kesehatan perorangan dan masyarakat (Menkes RI, 2012).

Pelayanan laboratorium merupakan bagian yang tidak dapat terpisah
dari pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pada era globalisasi seperti sekarang ini, tuntutan pelayanan laboratorium semakin meningkat seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan penyakit. Masyarakat menghendaki mutu hasil pemeriksaan laboratorium yang akurat, reliabel dan valid. Puskesmas termasuk laboratorium didalamnya harus memberikan pelayanan yang paripurna dan bermutu untuk dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat.

Ahli Teknologi Laboratorium Medis (ATLM) atau lebih dikenal dengan
sebutan analis harus senantiasa mengembangkan diri dalam menjawab
kebutuhan masyarakat akan adanya jaminan mutu hasil pemeriksaan
laboratorium. Semua kegiatan mulai dari teknis operasional, mutu
laboratorium serta tugas administrasi laboratorium semua dilaksanakan oleh
ATLM. Kemampuan pemeriksaan laboratorium di Puskesmas meliputi
pemeriksaan-pemeriksaan dasar seperti pemeriksaan Hematologi (Hemoglobin,
Hitung Jumlah Eritrosit, Hitung Jumlah Trombosit, Hitung Jumlah
dan Jenis Lekosit, Laju Endap Darah, MCV, MCH, dan MCHC),
pemeriksaan Kimia Klinik (Glukosa Sewaktu, Glukosa Puasa, Glukosan 2jpp dan BUMIL, Kolesterol, Asam Urat, dan Trigliserida), pemeriksaan Bakteriologi seperti BTA, pemeriksaan Imunoserologi (Tes Kehamilan, Golongan Darah, Widal, HbsAg, HIV, Sifilis dan Antigen/antibody dengue), Urinalisa meliputi (Warna, Kejernihan, pH, Albumin, Reduksi, Lekosit, Nitrit, Darah Samar, Berat Jenis, Keton, Bilirubin, Urobilinogen, dan Sedimen), pemeriksaan Malaria (Malaria, Filaria, dan Feses Rutin).

Poli umum merupakan salah satu dari jenis layanan di Puskesmas  yang memberikan pelayanan kedokteran berupa pemeriksaan kesehatan, pengobatan dan penyuluhan kepada pasien atau masyarakat, serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam bidang kesehatan. Kegiatan yang dilakukan oleh poli umum adalah melakukan pemeriksaan pasien secara umum dengan melihat indikasi atau gejala – gejala yang di derita oleh pasien. Pelayanan kesehatan dilakukan oleh dokter dan perawat yang memiliki Sertifikat dan Kompetensi yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan primer. Dalam menjalankan tugasnya, poli umum terintegrasi dengan seluruh Unit pelayanan lainnya di Puskesmas ( Poli Gigi, Poli Anak, Poli Ibu, Poli Gizi, Apotik, Labatarorium, dll).

Poli KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) merupakan pelayanan rawat jalan di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta anak prasekolah. Poli KIA adalah tempat mendapatkan pelayanan kesehatan terkait dengan ibu dan anak. Poli KIA adalah bentuk pelayanan Puskesmas dalam gedung yang pelayananannya sebatas pelayanan dasar. Poli KIA sering diintegrasikan dengan Poli KB, sehingga pelayanan yang ada dalam poli KIA nantinya akan ada dua jenis, yaitu pelayanan antenatal neonatus (antenatal neonatus care) dan pelayanan KB. Poli KIA merupakan salah satu dari poli pelayanan di Puskesmas Sungai Turak yang memberikan  pelayanan  ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, bayi, kesehatan reproduksi, pelayanan konstrasepsi dan perlindungan medis KB.

Langkah – langkah pada prosedur Venipuncture :

  1. Identifikasi pasien; setidaknya dua pengenal (nama lengkap, alamat,
    tanggal lahir) jangan melanjutkan prosedur jika ada ketidaksesuaian
    identifikasi, Formulir Permintaan pemeriksaan harus tertulis jelas
    nama pasien, alamat, tanggal lahir, no identitas, tanggal pengambilan
    sampel, jenis pemeriksaan yang diperlukan
  2. Phlebotomis memperkenalkan diri dan menyampaikan prosedur yang
    akan dilakukan
  3. Verifikasi puasa untuk keperluan pemeriksaan tertentu (kapan terakhir
    makan, minum)
  4. Lakukan hand hygiene, kenakan sarung tangan; disarankan untuk tidak
    menyentuh pasien tanpa sarung tangan
  5. Posisikan pasien supaya nyaman, letakkan lengan pasien lurus diatas
    meja dengan telapak tangan menghadap keatas
  6. Ikat lengan dengan cukup erat menggunakan tourniquet untuk
    membendung aliran darah, kemudian pasien disuruh mengepal dan
    membuka tangannya beberapa kali untuk mengisi pembuluh darah
  7. Dalam keadaan tangan pasien masih mengepal, ujung telunjuk
    pemeriksa mencari lokasi pembuluh darah yang akan ditusuk
  8. Bersihkan lokasi tersebut dengan kapas alkohol dan biarkan kering
  9. Peganglah spuit dengan tangan kanan dan ujung telunjuk pada pangkal
    jarum
  10. Tegangkan kulit dengan jari telunjuk dan ibu jari kiri diatas pembuluh
    darah supaya pembuluh darah tidak bergerak, kemudian tusukkan
    jarum dengan sisi miring menghadap keatas dan membentuk sudut
    ± 30o
  11. Jarum dimasukkan sepanjang pembuluh darah ± 1 – 1½ cm
  12. Dengan tangan kiri, pengisap spuit ditarik perlahan-lahan sehingga
    darah masuk kedalam spuit, sementara itu kepalan tangan dibuka dan
    ikatan pembendung direnggangkan atau dilepas sampai didapat
    sejumlah darah yang dikehendaki
  13. Letakkan kapas pada tempat tusukan, jarum ditarik kembali
  14. Pasangkan plester untuk menutup bekas tusukan pada lengan pasien
  15. Alirkan darah yang terambil ke dalam tabung vacutainer EDTA
  16. Segera bolak- balikkan vacutainer sesuai rekomendasi produsen
    (H. Maxwell, 2010)

POCT (Point of care Testing ) didefinisikan sebagai pemeriksaan yang hasilnya dapat diketahui sesegera mungkin dalam membantu menetuan tindakan selanjutnya bagi pasien. Penggunaan darah kapiler memiliki beberapa kontraindikasi seperti pada kasus gangguan sirkulasi perifer yang berat misalnya dehidrasi pada koma ketoasidosis, hipotensi berat, gagal jantung, dan lain-lain.

PRAANALITIK.

Persiapan pasien:

GDP : Pasien dipuasakan 8 – 12 jam sebelum tes,  semua obat dihentikan dulu, bila ada obat yang harus diberikan ditulis
pada formulir permintaan tes.

GD2PP : Pengambilan sampel darah dilakukan 2 jam sesudah makan setelah
pengambilan darah GDP.

GDS: Tidak ada persiapan khusus.

Persiapan sampel :

Tidak ada persiapan khusus. Pengambilan sampel sebaiknya pagi hari
karena adanya variasi diurnal. Pada sore hari glukosa darah lebih rendah
sehingga banyak kasus DM yang tidak terdiagnosis.

ANALITIK.
Cara Kerja:

  1. Alat glukosameter disiapkan
  2. Jarum dimasukkan dalam lancet dan dipilih nomor pada lancet sesuai
    ketebalan kulit pasien
  3. Chip khusus untuk pemeriksaan glukosa dimasukkan pada alat glukosameterpada tempatnya (sesuai alat glukosameter)
  4. Strip dimasukkan pada tempatnya (sesuai alat glukosameter)
  5. Jari kedua/ketiga/keempat pasien dibersihkan dengan menggunakan kapasalkohol lalu dibiarkan mengering
  6. Darah kapiler diambil dengan menggunakan lancet yang ditusuk pada jarikedua/ketiga/keempat pasien
  7. Sampel darah kapiler dimasukkan ke dalam strip dengan cara ditempelkanpada bagian khusus pada strip yang meyreap darah
  8. Hasil pemgukuran kadar glukosa akan ditampilkan pada layar
  9. Strip dicabut dari alat Glukosa meter
  10. Jarum dibuang dari lancet

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.